Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

somebody come...and someone goes

Wednesday, June 11, 2008 | Labels: | 0 comments |

Ketika seorang bayi terlahir ke dunia. haru biru kebahagiaan tercipta. lelehan air mata bercampur senyum syukur terpancar.
ketika suara tangis bayi pertama kali terdengar. lantunan adzan dan takbir bersahutan di telinganya. sujud doa dan harapan berkumandang.

betapa bahagianya ketika sebuah pertautan hati terjalin. seperti kebahagiaan ibu yang melihat anak dalam rahimnya untuk pertama kali.
betapa beratnya ketika ikatan hati itu terlepas. seperti perihnya kulit yang terkelupas sebagian. lukanya tidak kunjung mengering. sakitnya datang dan pergi.

Ada cinta yang datang, ada senyum manis yang terukir
ada luka yang menganga, ada perih yang membuatku meringis
langkahku masih tetap sama. mengarah lurus menuju ilahi
mungkin sedikit gemetar, mungkin sedikit melambat

luka ini mungkin berdarah-darah. mungkin meninggalkan jejak merah
perih ini mungkin tak tertahankan. sakit ini mungkin tak berkesudahan
tapi hidup harus berjalan. harapan akan terus berlari
Bukankah begini hidup yang dikatakan cantik?

Untuk sebelah tangan yang terlepas dari kaitan
aku percaya tanganmu melepasku untuk menggapai kebahagiaan
untuk sebelah tangan yang senantiasa menggenggam jemariku erat
cinta yang pernah kau tawarkan, akan kukenang dengan indah

in memoriam,
my replica mate

wrote by nune

APA INI ?

Tuesday, June 10, 2008 | Labels: | |

Apa ini ?
Ini apa?

Kau sebut ini biasa. Kau bisa. Kau biasa.
Aku sebut ini biasa. Aku bisa. Aku biasa.

Kau dan aku sebut ini biasa. Kau dan aku bisa. Kau dan aku biasa.

Kau ini apa? Apa ini kau?. Ini apa? Kau?
Aku ini apa? Apa ini aku?. Ini apa? Aku?

Kau dan aku ini apa? Apa ini kau dan aku? Ini apa? Kau dan aku?

Apa bisa biasa? Bisa apa? Biasa apa? Apa bisa? Apa biasa?
Ini bisa biasa. Bisa ini. Biasa ini. Ini bisa. ini Biasa.

B.I.A.S.A

| Labels: | |

Menjadi Biasa...

AH, aku mau curhat nih...

Sudah lama aku tidak sakit hati. Sudah lama tidak merasakan sakit hati. Sudah kebal dengan namanya sakit hati. Makan sakit hati. Kenyang. Mulut bersendawa kekenyangan menelan sakit hati. Hati membengkak kekenyangan. Mau muntah tapi sayang, jadi aku telan lagi. Muntah menjijikkan. Makanya aku telan saja. Toh, nanti keluar juga apa yang aku telan. Tetap menjijikkan memang. Tapi, setidaknya itu lebih alami.

Sakit hati. Hati sakit. Biasa sakit. Biasa hati-hati. Hati biasa sakit. Hati-hati sakit hati.

Bisa karena biasa. Bisa biasa-biasa saja. Biasa menjadi bisa. Bisa menjadi biasa. Menjadi bisa biasa. Ah, bisa biasa.

Paling biasa. Paling bisa. Bisa paling biasa. Paling. Bisa. Biasa.

Katanya aku biasa. Katanya aku bisa. Katanya aku bisa biasa. Aku katanya biasa berbisa. Katanya. Hanya katanya. Yah, hanya katanya.

Siapa "Katanya". Siapa "kata". Siapa "-nya". Katanya "siapa". Kata "siapa". Nya "siapa". Katanya. Siapa. Katanya. Ya, hanya katanya siapa. Ah, siapa hanya berkata katanya siapa.

Katanya yang dikenal. Dikenal katanya. Kenal katanya. Yang kenal. Ah, sok kenal.

Biasa bisa berbisa.
Aku bisa berbisa.
Aku biasa.
Aku bisa.
Biasa Berbisa.
Bisa Biasa.













Manusia Biasa itu saya, kamu dan mereka

| Labels: , | 0 comments |

siapa yang dikatakan biasa? KITA. semua manusia di belahan bumi manapun adalah manusia biasa. terlepas dari kekuatan, kelebihan, kecerdasan, kekurangan, kepatuhan, kealiman dan ke-ke yang lain, manusia sejatinya manusia biasa.
semakin biasa seseorang, semakin indah dia di mata Tuhan. saya suka menjadi manusia biasa. saya suka menjadi manusia yang biasa-biasa saja. karena dengan biasa, saya terbiasa dengan semua yang dianugrahkan Allah pada kita. Saya biasa dengan kesakitan, kebahagiaan, kesedihan dan semua yang bisa terjadi pada hidup kita. keter-biasa-an akan membuat kita memandang datar grafik kehidupan kita yang tidak beraturan. yang kita pandang adalah Allah. tidak ada lain. tidak diri kita ataupun orang lain. semuanya sama. hanya Allah yang patut kita katakan luar biasa. yang lain, entah itu malaikat, jin dan manusia, mereka biasa-biasa saja.
menjadi manusia biasa tidak akan menghilangkan amal ibadah kita teman. menjadi manusia biasa tidak akan menghilangkan identitas kita sebagai manusia yang memiliki iman. mengapa kita harus khawatir ketika kita dikatai manusia biasa? ^_^...lagi-lagi sebuah pemikiran primitif dari saya.
maafkan saya yang terlalu memandang rendah kehidupan ini. karena memang semua atribut dunia ini hanya khayalan semata. kekayaan, kekuasaan, kekuatan, kecerdasan..semua itu hanya sebuah bayangan diri kita yang bisa menghilang ketika matahari terbenam. Yang bisa hilang ketika Allah mengatakan "KUN!!"
jadi, buat apa merasa marah? buat apa merasa gundah? kenapa harus gelisah? merasa menjadi manusia biasa adalah kekuatan kita untuk selalu bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepada kita. Rasa syukur akan membesarkan nilai kita dimata Allah. Allah mencintai manusia-manusia yang selalu bersyukur.

life a.c.t.u.a.l.l.y

Sunday, June 8, 2008 | Labels: | |

Pernahkah kalian memiliki cita-cita? Ketika umur kalian berada di kisaran 9 sampai 16 tahun, di dalam hati kalian pasti terpendam sebuah keinginan. Walaupun seiring dengan waktu terkadang keinginan itu berubah ubah, tetapi tetap keinginan itu sempat terbersit

Pada saat kuliah saya juga memiliki keinginan yang tinggi. Menjadi fashion editor/penulis fashion yang pekerjaannya adalah TRAVELLING (for your information, saya suka banget traveling. Bahkan saya pernah jatuh cinta pada seseorang karena hobi kita sama)

Saya berusaha mewujudkan mimpi saya dengan berbagai rencana. Di saat saya kuliah, saya mengambil D1 sekolah design. Di setiap kelas yang saya ikuti, saya membayangkan diri saya mengkritik perancang-perancang kenamaan seperti YSL, DOLCE, MARK JACOBS and so on.

Untuk memuluskan keinginan saya, saya mengirim rancangan saya ke beberapa majalah. Ternyata yang dimuat malah artikel kecil saya yang saya atas namakan adek saya karena mereka meminta data diri di kartu pelajar. Majalah itu adalah Cosmo Girl. J

Ternyata manusia Cuma bisa berencana ya? Bagaimanapun kita berusaha membuat peta kehidupan 20 tahun mendatang, ada beberapa bahkan sebagian besar malah lepas dari yang kita rencanakan.

Bagaimanapun manusia berusaha bahwa dia mampu melakukan apa yang dia inginkan, ada sesuatu dibalik itu semua yang lebih tahu bagaimana hidupnya harus berjalan. Apakah belok kiri, mundur ke kanan, naik ke atas, turun ke bawah, menyamping sedikit, putar haluan dan lain sebagainya.

Tetapi bukan kemudian kita pasrah dan mengikuti saja alur kehidupan!

Orang pasrah: ”Ya mo bagemana lagih! Nggak perlu punya ide macem-macem dah! Toh semua kehidupan ini sudah ada yang ngatur dari sono-nya!”

Komentator: ”ternyata idup nggak idup lu sama aje ye? Kek orang mati. Nggak ada usahanye!”

Bukannya Tuhan juga kasih kita pilihan yak? Seperti ketika kita di hadapkan pada sebuah peristiwa yang menghendaki kita untuk memutuskan sesuatu. Kalo kita pilih jalan a, nanti dapetnya a plus dan minus. Kalo kita pilih jalan b, nanti dapetnya b plus dan minusnya. Ada satu jalan yang sebenarnya bisa dipilih kita. Yaitu jalan yang dipilihkan Tuhan untuk kita.
caranya?
mungkin dengan mencari tahu apa yang dimaui Tuhan yak?
:P, mentok-mentok..saya juga manusia. dengan ilmu dan kemampuan terbatas.
wrote by nune

Baby-Sitter, Apakah Ibu-ku ?

Monday, June 2, 2008 | Labels: | |

Pagi – pagi sekali seorang baby-sitter memandikan si kecil (baca : anak majikannya), bahkan sebelumnya harus membangunkan si kecil dan merapikan tempat tidur, bahkan harus membersihakan dan menjemur kasur bila si kecil ngompol semalam. Menyiapakan pakaian untuk dipakai berangkat sekolah, menyiapakan tas dan peralatan belajar, membuat bekal dan memasukkannya ke dalam tas. Memilihkan sepatu dan kaus kaki yang cocok. Mengantarkan kesekolah dengan naik mobil milik majikannya yang disopiri oleh tukang sopir majikannya pula. Menemani si kecil di sekolah, dari pagi hingga siang. Menemaninya saat istirahat untuk makan bekal yang sudah dibawa dari rumah.

Dirumah, membuatkan makan siang, menemani si kecil menonton TV, main mainan hingga kepayahan. Menemani si kecil untuk tidur siang. Kemudian memandikan si kecil, menggantikan pakaiannya, menemaninya jalan – jalan disore hari sambil mengawasi si kecil main sepeda di sekitar rumah. Bahkan ketika mau tidur malam, seorang baby-sitter menemani si kecil sambil mendendangkan dongeng – dongeng yang pernah ia dengar dari cerita emak-nya dikampung untuk membuat si kecil cepat tertidur. Rutinitas seorang baby-sitter.

Baby-sitter, digaji untuk menjaga si kecil hampir selama 24 jam, untuk memandidakan si kecil, mengantarkan ke sekolah, menemaininya bermain dan sebagainya. Wajar, untuk itu mereka dibayar. Tidak ada yang salah dengan apa yang mereka kerjakan.

Diamanakah peranan orang tua, terutama seorang ibu, apakah hanya melahirkan, menyusui, memberi uang saku, membelikan baju dan mainan, dan menyuruh baby-sitter-nya untuk selalu mengawasi si kecil, sementara sang ibu sibuk dengan rutinitas pekerjaannya, sibuk dengan bisnis yang ia kelola, sibuk ketemu dengan klien hingga jarang ada di rumah, bahkan sedikit sekali waktu untuk menemani si kecil. Dengan dalih untuk kebahagian si kecil mereka bekerja membanting tulang hingga tak kenal waktu.

Sendainya jika si kecil boleh berkata

“Bi, siapa sih ibu-ku, Mama atau Bi Ijah?”

“Kok, tiap hari Bi Ijah yang nemanin Adik main, nganterin Adik ke sekolah, bahkan nemanin Adik tidur sambil baca dongeng”

“Kemana Mama ya, Bi?”

“Apa Bi Ijah, Ibu Adik”

“Terus, Mama itu siapanya Adik?”

Jangan salahkan anak anda jika dia lebih senang berada di dekat baby-sitter dari pada di pelukan anda, jangan aneh jika anak anda ketika berteriak ketakutan sambil nangis di sebuah supermarket, dan memanggil – manggil nama baby-sitter, bukan nama anda. Jangan pernah sakit hati jika anak anda lebih suka makan disuapin sama baby-sitter. Jangan salahkan ketika anda ingin menemaninya tidur, ia malah merengek – rengek minta di temani baby-sitter-nya, karena ingin mendengar kidung dongeng darinya.

Bukan sepenuhnya tugas seorang ibu beralih ke seorang baby-sitter, luangkan waktu anda untuk menemani si kecil, lakukan sendiri kegiatan atau pekerjaan yang berhubungan langsung dengan anak anda. Posisikan baby-sitter untuk membantu pekerjaan anda, hanya membantu, bukan menyerahkan sepenuhnya tugas tersebut kepada baby-sitter. Kesibukan kerja bukanlah halangan untuk menemani anak anda. Sesekali temani mereka ke sekolah, temani mereka saat tidur, bacakan dongeng yang dia sukai. Ketulusan hati dan kasih sayang seorang ibu jauh lebih besar bisa dirasakan dan diterima dari pada seorang baby-sitter. Benang merah, hubungan kontak batin lebih kuat anatara ibu dan anak.

segumpal darah, sekilo cinta...

Wednesday, May 28, 2008 | Labels: , | |

pukul dua lebih sedikit, saya masih berkutat dengan pekerjaan saya. tiba-tiba handphone saya bergetar. suara tante saya yang mengabarkan bahwa mama saya tidak bisa bangun. tanpa menunda lagi saya langsung ijin pulang kepada bos dan memacu laju kendaraan saya maximal. karena khawatir, seorang teman saya membuntuti saya dari belakang. takut saya kenapa napa.
sesampai di rumah, saya tidak bisa berkata-kata. dada saya sesak melihat ibu saya yang terbujur tak berdaya dengan mata terpejam. saya hanya mondar-mandir tak tentu arah. menelpon kakak yang ada diluar kota, 1 menit kemudian saya cancel. menelpon adek yang juga sama-sama diluar kota, 1 menit kemudian saya cancel kembali. air mata saya meleleh. joy stick hp saya terus ter scroll ke bawah dan ke atas tak menentu. bagaimana ini? bagaimana ini?
sampai kemudian mobil ambulance datang dengan bed rodanya. yang ada di hati saya saat itu hanya khawatir. belum pernah saya melihat ibu saya tidak berdaya seperti itu. berbagai pikiran berkecamuk di dalam otak saya. antara memberitahu kakak. memberitahu adek. tidak memberitahu. kondisi ibu. sakit apa ibu. apa yang dirasakan ibu. kesakitankah? dimana sakitnya? adakah dokter khusus yang siap menangani ibu saya? karena penyakitnya tidak bisa diurusi hanya sekedar dokter jaga.
bergegas saya mendului ambulance untuk tiba di rumah sakit lebih dulu. saya harus memastikan ibu saya mendapatkan penanganan dan tempat. ternyata dokter specialisnya masih di luar kota. Apa mau dikata, ibu diperiksa dokter jaga, dicarikan tempat,dan menemukan di kamar kelas tiga. semua kamar penuh.
saya menemaninya. tidur di sebelahnya. tubuhnya panas. nadi di leher dan tubuhnya berdetak dan bergetar berirama, kencang sekali. saya peluk tubuhnya tapi kemudian saya lepas kembali. saya tidak kuat dengan suhu tubuhnya yang tinggi. kompres selalu saya ganti. matanya tidak juga membuka. ibu, sakitkah itu? sakitkah jantung yang berdetak hebat itu? ibu, sakitkah dirimu?
saya bacakan doa-doa pendek. suasana hati saya saat itu sangat kacau. saya teringat ketika saya sakit demam berdarah pas smp dulu itu. kata dokter, virus ini sudah merambah tubuh saya 50%.
waktu itu, demam berdarah menjadi momok baru. pemerintah gencar2nya mengingatkan kita untuk hati-hati dengan nyamuk aides..whatever. banyak korban yang meninggal. pecahnya pembuluh darah di setiap lubang di tubuh saat itu terdengar mengerikan. pasien yang bernasib sama berjejer kamar denganku. setiap hari ada saja yang meninggal. saya juga sudah kehabisan tenaga. berliter liter darah keluar dari dalam lambung. keluar melewati selang tipis yang ditancapkan di lambung melalui hidung. rasanya sakit. sangat sakit. darah itu kata bapak berbau busuk.
tepat 2 hari saya di rumah sakit, pasien di sebelah kamar saya meninggal. ibu kelihatannya tertekan. saya bisa melihatnya dari kecepatan bobot tubuhnya yang kian hari kian menyusut. sampai 38 kg kata dokter. Dokter bahkan khawatir ibu nanti ikutan sakit. saya, tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa, untuk mengangkat tangan saja rasanya sudah sulit. tapi saya bisa melihat kegelisahan ibu saya. dia menangis di malam saya di bawa kerumah sakit. dia keluar kamar, ketika para perawat memasukkan selang panjang itu ke dalam hidung saya. saya bisa mendengar isak tangisnya diantara teriakan sakit saya memanggil manggil namanya. saya sering mendengar lirih suaranya melantunkan ayat suci di malam buta ketika tubuh saya terasa sakit dan saya tidak bisa tidur.
Dan sekarang, ketika tubuhnya berbaring tak berdaya di sebelah saya, saya juga merasakan hal yang sama. saya gelisah seperti kegelisahannya dulu. saya takut saya tidak bisa menolongnya. saya takut saya tidak bisa berusaha maximal. ketakutan yang sebenarnya tidak perlu karena dengan alasan yang rasional, Allah lah pemilik semua yang ada di dunia fana ini dan kepada-Nya semua kembali. tapi, semua yang saya rasakan sangat manusiawi. saya takut kehilangan karena saya sangat mencintainya. saya takut dia menderita, karena saya sayang padanya. sayang dan cinta yang membuat kerasnya batu menjadi selembut busa sabun.
di dalam linangan air mata dan doa-doa saya, saya memohon kesembuhannya. memohon penuntasan deritanya. kalaupun memang Allah sang pemilik kehidupan memintanya kembali, semoga saat ini amalan ibadah ibu sudah cukup membawanya ke surga dan semoga semuanya diberi kemudahan. tetapi kalau memang tidak seperti yang diharapkan, semoga Allah sang Pemilik Ampunan memberi ibu kesempatan. untuk menambah amalannya di dunia.
saya percaya Allah mendengar doa saya. Ibu berangsur angsur sembuh dengan cepat. walaupun stroke tidak bisa sembuh dengan cepat tetapi dokter sempat heran juga dengan kesembuhan ibu. Saya percaya Allah maha pengasih. itulah kenapa Allah memberi ibu kesembuhan. Dunia ini diciptakan dengan cinta. cinta yang diberikan Allah untuk umatNya. maka saya akan menumbuhkan banyak cinta. cinta untuk selalu berbuat sesuai dengan ridloNya. terima kasih Allah untuk mukjizat ini. terima kasih Ibu untuk kasih sayang dan cinta yang engkau turunkan kepadaku.

"Bisa dong beli sekarang, kan bunganya 0%...

Monday, May 26, 2008 | Labels: | |




Sebuah slogan yang selalu saya terima setiap bulan ketika tagihan kartu kredit datang. Private & Confidential mengawali tulisan diatas nama surat dan alamat surat penagihan. 2 lembar kertas glossy berwarna kontras dilipat di atas lembar tagihan. Saya tidak melihat tagihan saya dulu. Mata saya terpana melihat begitu banyak produk yang ditawarkan dengan harga yang bombastis.

JKT-SINGAPORE
BUY 1
GET 1
Only
USD 60
Period: may 10-june 10,2008

BOOK NOW!!
Niaga travel services:
021-720…

Headline yang ditulis di selembar brosur begitu 3 lipatan kertas tersebut saya tarik dari dalam amplop. Saya, yang sangat maniak jalan-jalan tentu saja tertarik. Dengan harga segitu saya bisa terbang ke Singapore. Walaupun setelah di buka lembar berikutnya, saya masih disodori persyaratan yang membuat harganya tidak seperti yang diiklankan, saya tetap berkeinginan pergi. Kenapa? Karena nilai yang ditawarkan jauh lebih murah daripada saya mengurus sendiri semua keperluan saya.

Dan lebih hebatnya lagi, semuanya bisa dibayar dengan nyicil!!! Begitu hebatnya kata2 kredit ini sampai-sampai saya sudah berangan angan saya berada di orchard road singapore menikmati senja di negara berpenduduk minim itu.

Kemudian saya berpikir. Apakah ada di era ibu (mama saya dulu) belanja-belanja seperti ini? Membeli dvd player dengan cicilan tanpa agunan, membeli laptop dengan cicilan tanpa agunan, plesiran ke luar negeri tanpa mikir harus menyiapkan uang berapa.

Begitu mudahnya manusia-manusia millenium ini mengkonsumsi barang-barang mewah membuat kita menjadi manusia-manusia hedonis. Mall bertebaran dimana mana, beli kredit tanpa agunan, pinjaman tanpa proses berbelit membuat beberapa dari kita menjadikan kebutuhan tertier menjadi primer. Dan pada akhirnya membuat begitu banyak nafsu-nafsi yang bersifat mubadzir memudharatkan perilaku kita.

Fiuuuuhhhhh!! Saya mengusap peluh di dahi saya. Setelah berbinar-binar melihat dan membaca artikel di 2 lembar brosur di atas tagihan saya, saya dikembalikan lagi ke kenyataan tentang jumlah tagihan saya di lembar ketiga.
Ibu menengok jumlah tagihan saya dari balik bahu saya. Sejenak senyum geli terpancar dari wajah beliau. Geli, karena jumlah tersebut mampu membuat keluh peluh dari dalam diri saya keluar. Ibu berkomentar tidak ada yang begitu begituan di jaman ibu. Hehehehe, ya! Di saat-saat seperti ini saya berharap saya hidup di jaman ibu. Tidak tergiur oleh indahnya tertier. Tidak terbayang cantiknya tangan saya memakai jam cartier.
wrote by nune

Sang Perantara Kekasih

Saturday, May 24, 2008 | Labels: , | |


Disuatu masa kamu pernah bilang padaku bahwa aku kekasihmu. Lembut tangan mungilmu mengusap tubuhku. Senantiasa mendekapku di dadamu dikala kamu membutuhkanku. Dengan langkah kecilmu kamu mengayun ayun tubuhku. Lembar demi lembar hari kita, kamu berusaha untuk memahamiku. Memandangku dan mengerti diriku.


Suatu ketika di suatu masa, tetesan air matamu jatuh ditubuhku. Haru biru menguasai kalbumu. Semakin hari tetesan itu mengerak dan menimbulkan noda di hatimu. Tidakkah kamu tahu? aku sangat memahamimu. Bisakah kamu selalu ada disini dan merangkulku? karena aku memiliki semua jawaban atas gelisah-gelisahmu.


Aku cinta padamu, melebihi cintamu padaku. Aku mengerti dirimu, melebihi pengertianmu padaku. Tubuhku adalah jiwamu. Baitku adalah cerminan hidupmu.


Disuatu hari ketika umurmu berlari. Kau pojokkan aku di dalam kotak hatimu. Terpuruk, tersudut aku membisu. Bersama debu-debu penyangkalan dan kemalasan yang menyelimuti diriku. Hatimu tidak lagi ditubuhku. Juga jiwamu.


Duhai kekasih yang pernah memelukku. Jangan kau biarkan dunia fana ini membuai dirimu dan menggelisahkanmu. Segera usap air matamu. Karena aku tidak pernah pergi. Suarakan ayat-ayatku dengan suara hatimu. Hapus sinismu dengan membacaku kembali.


Jangan kamu cari jawaban atas gundahmu terlalu jauh. Karena sesungguhnya, jawaban itu tidak jauh. Dia ada disini. Di 2 dari kiri lemari belajarmu. Berdempetan dengan novel pujaanmu dan buku pelajaranmu. Agak berdebu sedikit. Noda coklat di sudut tubuhku. Cepatlah kemari. Akan kubuka kembali tabir kehidupanmu yang bersih. Akan kujawab pasti semua gundahmu. Tidak, menjadi baik tidaklah sulit. Menjadi kekasih-Nya tidaklah berat. Kuncinya hanya bersabar dan ikhlas. Semoga Dia yang memilikimu memberikan hidayah lewat aku.


note: untuk pedoman hidupku. Al Qur'an


wrote by nune

Yang Pengen Pintar...

Thursday, May 22, 2008 | Labels: | 0 comments |


Ditengah tumpukan kertas dan laporan yang deadline-nya hari ini juga, saya mendengar rekan kerja saya, mengomel dari meja sebelah. Wanita itu sedang memegang sehelai kertas dengan wajah merengut. Saya mendekatinya. Ikut membaca tulisan dalam kertas.

Di kepala surat tertulis warna-warni besar berjudul Thumble Teng. Selebihnya tulisan-tulisan tersebut berwarna warni dengan font 12. Di ujung kanan kertas tertulis sejumlah angka yang, wow! seru saya. betapa besar angka yang tertera disana untuk sebuah sekolah Play Group bernama Thumble Teng.

"Yah, begitulah..." celetuk teman saya tiba-tiba. Masih memandangi kertas itu dengan seksama.
"Brian mo sekolah di situ mbak?" tanya saya. Ambar, nama teman saya itu, meringis sambil mengangguk lemah.

"Tadinya. Saya sudah bercita cita nyekolahin dia di Thumble Teng, mbak" jawab Ambar lesu.

"Lalu?"

"Kalo harga masuknya saja segini, saya nggak sanggup", Ambar.

"Emang besar sih mbak, nggak ada sekolah yang lain kah?", saya.

"Ada sih mbak. Cuma, fasilitas nggak lengkap. program nggak bagus dan kata teman saya, pengajarnya nggak terlalu care sama murid. Huh! mo pintar aja kok mahal banget ya mbak" keluh Ambar sembari menyandarkan punggungnya ke belakang. Saya duduk di depannya sembari bertopang dagu. Ternyata pengen pintar tuh mahal ya?

tapi kemudian saya ingat penulis beken Andrea Hirata. Dia tumbuh di sebuah lingkungan yang minim fasilitas. tergembleng oleh keterbatasan. tertindas oleh kekurangan materi. Tidakkah sudah sepatutnya kita menanyakan padanya apa rahasia kesuksesannya sekarang. apakah karena fasilitas atau justru keterbatasan?

Saya juga tumbuh dari sebuah keluarga. Dan saya kira, peran terpenting sampai saya bisa menulis hal ini sekarang adalah orang tua. Mari para orang tua. Mulai tumbuhkan karakter anak-anak dari dalam rumah. Berikan contoh yang baik pada mereka. Karena sesungguhnya anak-anak adalah cerminan orang tua.
wrote by nune

Dijatah

Tuesday, May 20, 2008 | Labels: , | 1 comments |


Kisah di beranda rumah...

“Bah… hidup sekarang ini serba dijatah“ keluh emak dengan pandangan kusut menatap abah.
“Tadi aja… pas ada bazar murah di pasar, beli beras cuma dijatah lima kilo, minyak goreng sekilo… mana minyak tanah cuma dijatah sepuluh liter buat satu bulan” lanjut emak penuh kejengkelan.

“Biar semuanya kebagian jadi harus dijatah, biar adil” ujar abah dengan datar sambil membolak-balik koran.
“Kalau begitu… Abah harus dijatah juga, seminggu cuma tiga kali!” seloroh emak dengan kesal sambil meninggalkan abah.

“Lo… kok gitu?!” protes abah. “Aduh! mati aku kalau dijatah juga.”

Abah hanya bisa bengong melihat emak melenggang meninggalkannya.

By : Paijo RX

Menelaah Mozaik Kehidupan

Monday, May 19, 2008 | Labels: , | 1 comments |


Dalam setiap langkah kita mengais kepingan mozaik
Memungutnya dalam keranjang kenistaan
Memetik dari tangkai pohon kehidupan
Atau menggali di dalam kubangan waktu

Kepingan itu adalah cuilan yang mengisi hidup kita
Kepingan bermakna dari tiap hembusan nyawa kita
Kepingan itu tersusun dalam keberagaman segi dan warna
Tertata dalam keteraturan waktu

Jalan hidup dan waktu yang telah mengumpulkan dan menatanya dalam hidup kita
Kadang kita tersesat dalam kebingungan merangkai kepingan itu
Tertawa dalam kebahagiaan keberuntungan menyatukan kepingan itu

Bingkai itu bertepikan dimensi waktu
Beralaskan selaput kehidupan
Bertaburkan kepingan mozaik kehidupan

By : Paijo RX